Musik Noise dan eksperimental semenjak 6 – 7 tahun belakangan ini tampaknya mulai diakui keberadaannya di Indonesia. Mulai dari beberapa event acara berskala studio gigs sampai level festival. Kehadiran Senyawa di sirkuit tour manca negara turut mendongkrak keberadaan musik ini.

Musik Noise di Indonesia saat ini telah menjadi semacam genre musik bawah tanah yang berdiri disamping musik Punk, Hardcore, Metal, Grunge, Grindcore dan lainnya yang lebih dulu dikenal. Musik Noise menurut para pelakunya bisa diperlakukan sama seperti genre musik lainnya yang sudah diketahui oleh umum.

Di sisi lain memang ada beberapa musisi Noise yang memakai jargon anti musik, anti seni, memakai simbol tanda nada dicoret sebagai bentuk perlawanan terhadap konsep baku tangga nada di musik. Lalu apakah musik Noise itu sendiri bisa dianggap seni?

Munculnya Luigi Rusollo, dengan manifestonya The Art of Noises (1913) memberikan pandangan baru terhadap estetika musik di era industrial. Tidak ketinggalan John Cage dengan komposisi 4’33 sampai Lou Reed dengan Metal Machine Music (1957). Tahun 60-an pun Jimi Hendrix pun bermain main dengan feedback yang dihasilkan dari gitarnya. Begitu pula gempuran bulldozer Hanatarash dan semburan kebisingan elektronis Merzbow dan Masonna dari Jepang tidak bisa lepas dari sejarah. 

Jogja Noise Bombing sebagai kolektif musisi Noise yang anggotanya berasal dari berbagai genre dan skena musik merasa perlu mengangkat tema dan berdiskusi tentang noise dan eksperimental di Indonesia. Saat ini Jogja Noise Bombing mengajak beberapa pihak mulai dari pelaku noise dan eksperimental, peneliti, sampai akademisi yang mempunyai kredibilitas untuk berdiskusi dan berbincang santai menanggapi fenomena noise dan musik eksperimental di Indonesia

Dischord #1 adalah seri pertama sesi diskusi yang digagas oleh Jogja Noise Bombing bekerjasama dengan Lifepatch selaku fasilitator diskusi. 

Dischord #1 akan diselenggarakan tanggal 25 Agustus 2019 mulai pukul 19.30 – 21.00 di Lifepatch (no. 969, Jl. Tegal Lempuyangan DN III, Bausasran, Danurejan, Yogyakarta)  bersama Bob Edrian, Tesla Manaf – Kuntari, Jonas Engel, DJ Wèi Wáng dan Aris Setyawan yang bisa diikuti melalui IG story @jogjanoiseclub

Bob Edrian

Bob Edrian adalah seorang penulis dan juga kurator berbasis di kota Bandung. Pernah bekerja di Galeri Soemarja sebagai researcher dan curator. Kini Bob menjadi dosen di Telkom University dan mengajar mengenai Estetika, Semiotika, Pengantar Seni Rupa, Sosiologi Seni, Manajemen Seni Rupa dan Pameran.

www.bobedriantriadi.wordpress.com

Tesla Manaf – Kuntari

Dibesarkan dengan musik klasik, Tesla memulai karirnya sebagai artis Jazz yang membawanya eksplorasi ke dalam berbagai jenis musik yang berkembang. Dia telah menghasilkan tujuh album dan pertunjukan mulai dari musik Jazz, World Music, Neo-classical, Elektronika dan musik Eksperimental. Visinya adalah untuk menceritakan sebuah skenario musik imersif yang menceritakan emosi murni.

Aris Setyawan

Aris Setyawan adalah lulusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang bermain drum untuk Aurette and the Polska Seeking Carnival.Pemred media seni dan budaya Serunai.co ini juga menulis buku Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya (Warning Books) yang membicarakan musik, seni rupa, film, sastra, buku, aktivisme, hingga fenomena sosial.

https://arissetyawan.net/

Jonas Engel

Saxophonist dan komposer Jonas Engel tumbuh di Sannerz, Jerman Tengah. Jonas Engel belajar di Hochschule für Musik und Tanz Köln dan di Rytmisk Musikkonservatorium di Kopenhagen dan merupakan bagian dari musik jazz dan improvisasi di kota-kota ini sebagai musisi dan komposer di berbagai proyek. Dengan ketiganya Just Another Foundry, dia sudah memenangkan Young German Jazz Award, European Tremplin Jazz Award, dan Maastricht Jazz Award.

http://www.jonasengel.com

DJ Wèi Wáng

DJ Wèi Wáng adalah nama panggung untuk Heyling Chien, seorang DJ dari Kota Taipei, Taiwan. Dia juga bekerja di bawah nama DJ Blackbells. Dia adalah salah satu pendiri Sound Farmers, sekelompok aktivis dan pencipta sosial pencinta musik elektronik yang lahir pada akhir tahun 80-an. Mereka berusaha melakukan eksperimen sosial dan menjelajahi alam semesta / diri melalui suara dan musik.

Facebook Comments