Sempat hiatus selama satu tahun, akhirnya Folk Music Festival (FMF) kembali dihelat pada hari Sabtu (14/05) kemarin. Dan seperti yang sudah diterka, kesuksesan acara Folk Music Festival edisi perdana yang dilaksanakan di Surabaya dua tahun lalu menular di gelaran kedua. Kendati demikian, di edisi kedua ini bisa dibilang lebih intim ketimbang yang pertama.

Kenapa saya berkata seperti itu? Selain lebih dekat dengan penonton karena tidak ada barikade sebagai pemisah antara pengisi acara dan penonton -di Surabaya juga sih, pemilihan venue yang tepat juga membuat acara ini dirasa lebih ngena’. Ya, SATSCo berkolaborasi dengan Go Ahead People Malang memutuskan untuk memilih Lembah Dieng, Malang sebagai venue. Ini tentu jauh berbeda dengan FMF 2014 yang menggunakan Surabaya Town Square (Sutos) sebagai tempat berlangsungnya acara.

Perlu diketahui jika Lembah Dieng merupakan taman wisata yang dibangun pada tahun 1992 dan berada tak jauh dari pusat kota Malang (hanya 5 kilometer dari Alun-Alun kota). Kendati demikian, tempat ini dijamin bebas dari polusi. Udara sejuk juga masih sangat bisa dirasakan di Lembah Dieng, belum lagi kolam pemancingan yang menyerupai danau membuat venue FMF tahun ini sangat sesuai untuk menjadi tempat digelarnya festival musik folk.

Sayangnya, saya dan rekan di IHEARTGIGS, Clara Dilasanti, datang terlambat di acara sakral -bagi penikmat musik folk seperti ini. Cukup kecewa dan menyesal karena kami melewatkan sejumlah pertunjukkan dari Silampukau, AriReda dan lain-lain. Tapi, keterlambatan itu untungnya masih bisa dimaafkan karena White Shoes And The Couples Company (WSATCC) langsung menyambut kami dengan penampilan menawan.

Sari (WSATCC) sukses mengembalikkan mood para pengunjung di Lembah Dieng © Clara Dilasanti [IHEARTGIGS]

Sari (WSATCC) sukses mengembalikkan mood para pengunjung di Lembah Dieng © Clara Dilasanti [IHEARTGIGS]

Seperti biasanya, Sari Sartje serta kolega sukses mengembalikkan mood penonton yang saat itu kelewat bete karena terpaksa mengantri panjang demi sebuah toilet umum yang tersedia di venue. Tembang-tembang andalan yang muncul di album Vakansi pun menjadi andalan mereka. Kemudian Sari lagi-lagi mencuri perhatian, ia sempat turun dari panggung dan bersenandung di tengah-tengah penonton, outstanding!

 

Setelah WSATCC, acara dilanjutkan oleh penampilan rombongan sirkus dari Yogyakarta. Mereka adalah Aurette And The Polska Seeking Carnival (AATPSC), tembang-tembang seperti I Love You More Than Pizza dan Tamasya sukses memaksa saya untuk kemudian terus mengikuti karya-karya mereka. Berikutnya para penonton disuguhkan dengan penampilan spesial secara berturut-turut dari tiga wanita berbakat, yakni Christabel Annora -dari Malang asli, Liyana Fizzi dan Danilla Riyadi.

© Clara Dilasanti [IHEARTGIGS]

© Clara Dilasanti [IHEARTGIGS]

Bagi pegandrung bahkan pecinta musisi indie lokal perempuan, pasti gak asing sama tiga nama di atas. Ista -panggilan Christabel Annora sendiri baru saja merilis sebuah album bertajuk Talking Days yang juga dijual di sebuah lapak yang tersedia di venue.

Di sela-sela acara juga terdapat sejumlah workshop dan lokakarya dari teman-teman komunitas dan penggiat seni, beberapa diantaranya adalah seni kolase, Kolaszeb, yang dimotori Mas Lintang Kertomiprodjoe dan Macrame (Teman Nggratil). Selain itu, terdapat sebuah lapak yang menjual pernak pernik para pengisi acara yang terletak di sebelah selatan panggung dan gak ketinggalan food tenant yang juga tersedia di sekitar venue.

Oh iya, saya baru ingat, sebelum Danilla naik ke atas panggung ada Tiga Pagi yang lebih dulu membuai penikmat folk di Lembah Dieng dengan alunan sunda malam tadi. Sebenarnya hujan yang mulai turun mendukung suasana saat Tiga Pagi mulai memainkan instrumen mereka, sayangnya waktu yang terbatas –sebelumnya terpotong karena sempat molor membuat trio yang sempat ikut ajang LA Indie Fest 2008 itu tidak bisa lebih lama mepresentasikan karya-karya mereka.

Ketika mereka turun dari panggung, saya bergegas menemui Sigit Pramudita yang tak lain adalah vokalis Tiga Pagi. Setelah merasa cukup dengan wawancara bersama, kami kemudian terlibat dalam sebuah obrolan singkat. Ternyata, ia mengamini pendapat saya yang mengatakan bahwa FMF kali ini terasa lebih intim dari biasanya. “Udah bagus sih acaranya, kita juga bisa lebih dekat ke penonton. Kerasanya lebih intim gitu, tapi bukan berhubungan intim ya hehe,” katanya.

Dan tak lama setelah Danilla selesai, Mocca akhirnya tampil, teman-teman saya yang memang sengaja datang ke FMF hanya demi melihat Arina dan teman-teman manggung terlihat begitu antusias. Malam tadi, Arina sempat memanggil Liyana Fizi ke atas panggung untuk berduet dengannya menyanyikan lagu I Remember.

© Clara Dilasanti [IHEARTGIGS]

© Clara Dilasanti [IHEARTGIGS]

Acara pun ditutup dengan begitu syahdu oleh Float. Alunan folk yang dimainkan oleh Hotma “Meng” Roni Simamora serta dua temannya, yakni Windra “Bontel” Benyamin dan Raymond Agus Saputra membuat hujan yang turun semakin deras tak dipedulikan oleh para penonton. Koor masal dari penonton pun terjadi ketika unit asal Jakarta ini mendendangkan tembang-tembang andalan seperti Sementara dan Pulang.

 

Kerinduan para penggemar musik folk terbayar lunas dengan adanya FMF edisi kedua ini. Mengingat kesuksesan acara FMF kedua yang berlangsung kemarin, rasanya sangat pantas jika pihak penyelenggara menjadikan ini sebagai acara tahunan seperti kebanyakan festival yang sudah-sudah. Jika musik keras punya acara ritual sendiri untuk sekali dalam satu tahun, kenapa tidak dengan musik folk?

Facebook Comments