Home / Interview / Penggalan Perspektif: Perbincangan Singkat dengan Cak Sur

Penggalan Perspektif: Perbincangan Singkat dengan Cak Sur

Selama ini, pendapat-pendapat tentang band-band Malang mungkin masih berkutat pada pendapat para pelakunya (e.g. musisi). Di mana, pendapat-pendapat mereka mungkin akan menghasilkan bias-bias dikarenakan perbedaan skena yang diikutinya. Samack, salah seorang pengamat musik Malang juga dalam satu artikelnya pernah berkata mengisyaratkan bahwa skena musik di Malang terbagi banyak, mulai dari genre hingga tongkrongan kafe (www.whiteboardjournal.com dan sesikopipait milik Samack). Hal ini mungkin berdampak pada keterbatasan pengetahuan masing-masing dalam melihat “luar skena” mereka seperti yang sudah penulis sampaikan di atas. Ini juga belum menghitung band-band kampus yang datang dan pergi dihinggapi kelulusan dan wisuda.

Berhubungan dengan hal di atas penulis merasa bahwa ada sebuah keperluan dalam meminta pendapat para pelaku musik “di luar” pemusiknya sendiri. Ketika mewawancarai pengamat, label ataupun pelaku industri nantinya mungkin akan berhubungan dengan pemetaan dan bisnis- hal-hal industrial yang sudah mulai dijamah oleh banyak band Malang. Tetapi pada akhirnya, semua hal tersebut akan kembali kepada kualitas pertunjukkan band itu sendiri- hal utama yang “dijual”. Tentu, kita perlu pihak yang terlibat dalam pertunjukkan, namun bukan dari kalangan pemusik itu sendiri.

Dalam kali ini, penulis menjatuhkan pilihannya kepada vendor- penyedia jasa sound system dan tetek bengeknya. Beberapa alasan yang jelas adalah mereka selalu ada di panggung manapun (mereka kadang seperti Amoeba, kosmopolit, ada di mana-mana, hehehe), relatif tidak terikat oleh satu skena (ada uang, abang datang, hehehe) dan yang pasti, juga merupakan part of the show yang mau tak mau juga mengamati kiprah band-band di atas panggung.

Tentunya para vendor ini punya pendapat sendiri-sendiri soal kancah permusikkan Malang yang luas ini. Mulai dari uneg-uneg masalah tata sound, manajemen, produksi hingga eksistensi band kota ini, mungkin ada beberapa hal di atas yang luput diketahui oleh para pelakunya sendiri. Siapa tahu, merekalah pengamat musik yang jarang dianggap sebagai “pengamat” oleh para pelakunya sendiri?

Interview saya dengan orang-orang di luar pemusik ini akan saya terbitkan dalam artikel  ber-episode bertajuk Penggalan Perspektif dengan satu narasumber per edisi. Kali ini sesi Tanya Jawab bersama Cak Sur dari Musicklan yang dilakukan sekitar bulan Ramadhan kemarin. Check it out!

 

Halo, Cak Sur. Bagaimana keadaan Sound-sound’an di bulan Ramadhan ini?     

Cak Sur: “Ada saja kok, cuma memang tak senormal bulan biasanya.”

 

To the point yes, sampean ngelihat perkembangan’e musik Malang ini gimana?

Cak Sur:  “Perkembangannya bagus. Lebih berani bikin dan bawa lagusendiri. Wes jarang yang cover lagu band lain. Produksi+hasil record yo wes apik. cuma terkadang gak diimbangi dengan live performance-nya.”

 

Dadi koyok kurang ngono eksekusi Live e Cak?

Cak Sur: “Iyo. Kan kadang penikmat musik iku penasaran ambek Live performance e dia di Event/Konser ya, tapi ya kurang. Terutama, di bagian penguasaan alat musik, aku merasa beberapa dari mereka kurang eksplor lagi atau mereka merasa “ngene ae wes” (gini aja wes).”

 

Hmmm, iyo seh, iki tak amin Cak sebagai arek band-band’an, wahahahahahaha, sepuraneeeee…(maafkan)

Cak Sur: “Nah iku, kadang ngerti merk, tapi gak ngerti fungsine. Contoh ya, Ampli gitar Marshall, tinggal colok, gak mikir/cari karakter yang dibutuhkan, pokok jeng-jeng hajar.”

 

Akhirnya cuman dadi monitor, tapi gak dapat karakternya ngono Cak?

Cak Sur: “Iya, bener. Crew-pun juga kebanyakan lebih ke rea-reo tok (senang-senang aja), gak paham peralatan. Yo, sakjane butuh pembelajaran. Tapi lha kadang mereka merasa wes paham kok, arep ngandani (kasih tahu) piye?

Intine, band saiki beberapa wes macak artis. Gowo crew seng akeh, kebutuhan suarane gimana, pokok tinggal naik panggung main, udah.”

 

Lak iki Cak, gak senengnya sampean ke anak-anak band, terutama masalah alat-alat sampean sebagai vendor? Kan sampean jelas merasa ketar-ketir “yokpo ya alatku”, ngunu.

Cak Sur: “Kalau itu sudah ada antisipasinya. Ini bukan perkara seneng gak seneng ya, tetapi kalau boleh bilang, pemahaman terhadap karakter sound dan band itu belum cukup ada. Terus, pihak band, kalau sudah booming suka lupa akan produksi, akhirnya dilibas band baru lagi.”

 

Aku gak pernah mengamati sampek segitunya sih, Cak.

Cak Sur: “Ya itu yang aku baca di Malang. Coba, sampean lihat band seng punya nama di malang, cuman bertahan berapa tahun? 2-3 tahun kalau materi bagus, masih bisa bertahan di event. Terus, kalau gak produktif, kira-kira orang-orang bosan gak? Hahaha.”

 

Hmmm, iya sih. Memang harus ngalbum terus ya, terus promosi, biar namanya ada terus.

Cak Sur: “Itu yang harusnya dipahami.”

 

Lanjut Cak.

Cak Sur: “Untuk Soundman, anak-anak sekarang pokoknya ngerti bass, middle, treble wes minta dipanggil soundman. Bahasa kerennya sound engineer. Nah, ngatasi feedback, bisa apa enggak, coba?

Terus pokok ngerti Nuendo, Protools, Cakewalk merasa wes iso ngoperator’i. Itu sih kalau menurutku. Padahal ‘kan masih banyak yang harus dipelajari dan kadang buruknya, mereka gak mau tanya.”

 

Berarti dalam artian stuck gitu Cak?

Cak Sur: “Stuck itu berlaku ke band yang gak produktif.”

 

Hmmm, maksudnya, untuk soundman sendiri, yang sampean khawatirkan ‘kan merasa sudah “cukuplah, segini aja, aku lho udah mampu” ngono?

Cak Sur: “Ya gitu. Kalo ke operatornya lebih ke ego ya. Kasarannya, gak mau tanya dan merasa bisa.

Aku kalau untuk teknologi pasti tanya ke yang muda, soalnya wes males eksplornya, hehehe. Tapi kalau untuk suara, mereka masih butuh jam terbang, menurutku.”

 

Balik ke masalah vendor sebagai penjual jasa sewa alat dan sound Cak, sampean tadi ‘kan bilang udah ada antisipasi terhadap kekhawatiran akan kerusakan alat itu tadi, contohnya yakapa?

Cak Sur: “Aku rem sound-ku, lihat dulu operatornya paham atau tidak. Biasanya ‘kan anak muda minta banter (keras) aja kan. Beberapa sih, lagi.

Logikanya gini, orang bawa kendaraan kan dinikmati dulu kendaraannya itu. Sudah nemu enaknya baru digas, dalam artian seberapa kemampuan kendaraan itu tadi.

Kalau anak muda kebanyakan pokok banter sik (keras duluan), hahahahajuuuur…”

 

Wih, sampek segitunya ya…

Cak Sur: “Otomatis, kita sebagai vendor juga harus antisipasi kudu diapakan, kan begitu. Biasanya sih aku limit, kalau melebihi kekerasannya. Akhirnya ‘kan tambah gak enak kalau melebihi. Seperti itu.”

 

Terus, lak artist-artist yang udah besar datang ke Malang gitu, ‘kan spek sound’e (spesifikasi sound-nya) aneh-aneh di rider-nya, ngono iku yokopo Cak lak pas sampean gak punya alatnya?

Cak Sur: “Sebelum menerima job, kan aku cek riders dulu, kalau siap ya aku terima. Tapi riders-nya mereka semua biasanya sudah standar Indonesia, kecuali band-band bule yang mintanya aneh-aneh.”

 

Huahahaha, band bule.

Cak Sur: “Iyo, apalagi kalau mereka di-endorse merk tertentu. Kan kita harus menyiapkan. Contohnya aja Keyboard Hammond, di Indonesia rental cuman ada 3 yang punya.”

 

Wiiih, Hammond Organ! Apalagi yang B3 iku..ckckckck.

Cak Sur: “Iyo iku. Terus Ampli Gitar, Fender Twin Reverb, onok gak di Malang? Surabaya saja cuman ada 1 setahuku. Belum yang merk boutique. Yoiku, yang tidak terbayang di pikirannya kita.”

 

Berarti onok tambahan biaya sewa ya Cak?

Cak Sur: “Pastinya gitu. Di-charge dari sananya.”

 

Nah iki, beda manajemen sound’e artist luar Malang ambek lokal dewe? Sejauh pengamatan e sampean? Gak sound aja sih, ya lighting, tata panggung…cuman titik beratnya nang sound.

Cak Sur:”Kalau mereka, Lighting, Multimedia juga mereka pikirkan. Kalau sound, cuman bedain karakter band. Pernah lihat konser yang bandnya gantian perform? Mereka ‘kan bawa operator sendiri-sendiri dan setiap operator pasti menghasilkan karakter yang beda.

Coba bandingkan dengan festival band yang diserahkan ke pihak rental sound. Semua karakter band yang tampil, hasilnya pasti sama. Gak ada beda satu sama lain.”

 

Pengalaman Nge-vendori paling enak?

Cak Sur:God Bless.

“Aku pas SMP-SMA ngelihat God Bless sampai aku bela-belain memanjat stadion. Terus akhirnya aku vendori di UB, sama Om Ian (Ian Antono, gitaris God Bless) disuruh ngoperatori soalnya operatornya berhalangan hadir. Kebetulan udah kenal beliau waktu di Delta Sound dulu.

Pas acaranya, aku ndredeg (gemetar) gak karuan, penonton banyak, band legend. Subhanallah, aku dikasih kesempatan pegang God Bless, dan dibayar lho.”

 

Kalau pengalaman gak enaknya?

Cak Sur: “Yang gak enak, pernah satu kesempatan EO-nya kabur. Ya, jadi gak kebayar gitu. Acaranya rusuh, ya gitu. Rugi banyak.” (lalu memberikan informasi Off the record)

 

Kembali ke Malang lagi, Artist favorit Malang?

Cak Sur: “Entete Voice. Ngerti kan?”

 

Wiiiih! Iyo, band 90’an lak gak salah. Memang masih ada ya?

Cak Sur: “Iyap. Mereka mulai dari nol, ngamen di pinggir jalan, di warung-warung, sekarang tinggal menikmati hasilnya. Salah satu band Malang yang sukses. Sekarang di Surabaya, rumahnya di Malang tapi.

Aku ‘kan biasa mengoperatori mereka baik di dalam ataupun luar negeri.”

 

Terakhir, uneg-uneg untuk band Malang sekarang?

Cak Sur: “Bekerja lah atas nama team. jangan merasa kalo band iku bos. yang membedakan antara crew, vendor, band cuma job deskripsi.

Ini yang aku alami waktu ikut band luar negeri. Mereka tidak menganggap crew di bawah mereka karena ya itu tadi, sebenarnya semua itu hanya soal jobdesc saja.”

 

  • Penulis sengaja tidak mengubah bahasa bawaan (Jawa) di beberapa part karena belum menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang pas untuk beberapa ekspresi pada konteks tertentu

Pranala luar:

  • Interview Samack bersama Whiteboard Journal:

https://www.whiteboardjournal.com/interview/31246/retrospektif-musik-bersama-samack/

  • “Kami Nongkrong Maka Kami Ada”, artikel oleh Samack di blog pribadinya dan pernah diterbitkan di Suketeki fanzine:

https://sesikopipait.wordpress.com/2017/01/13/kami-nongkrong-maka-kami-ada/#more-3426

 

-KMPL- (@randy_kempel)

 

Facebook Comments

About KMPL

Pemuda yang telah meragukan "kemudaannya". Dibesarkan oleh Scorpions & Bon Jovi, bertumbuh bersama Dream Theater namun berkembang dengan Yes sejak tahun 1969-1980.

Check Also

Romance Dawn: Sebuah Pertanda Awal Perjalanan Rebelsuns

Pasca sukses menarik perhatian dengan tiga single yang sudah lebih dulu dilepas, Rebelsuns akhirnya menelurkan …

If the spinner keeps loading forever, click to hide it.
Loading...