Connect with us

Hi, what are you looking for?

Gigs

Sedikit Cerita Dari The I Way Festival Yang Dihentikan

Ditulis oleh Noviar Rahmat

Hujan deras turun membasahi kota Bandung sore itu. Cuaca yang cukup menyiksa, lumrah saja karena sejumlah acara ciamik tengah dilaksanakan disini, salah satunya The I Way Festival yang dihelat di Lapangan Udara (Lanud) Husein Sastranegara, Bandung, Minggu (24/4).

Usut punya usut, acara ini merupakan gelaran besar karena jika ditilik lagi, pengisi acara pun diambil dari sejumlah band yang akhir-akhir ini lagi hype banget, seperti The Sigit, White Shoes And The Couples Company (WSATCC) dan Kelompok Penerbang Rocket misalnya. Selain pengisi acara, kabarnya banyak gerai makanan dan juga booth komunitas kreatif yang berpartisipasi menggelar lapak disana.

©Noviar Rahmat

Gate Utama The I Way Festival ©Noviar Rahmat

Rasa penasaran saya kian tergugah, tapi badan ini tak bisa digerakkan karena ribuan air hujan masih jatuh menghantam bumi pasundan kala itu. Akhirnya, hujan pun sedikit reda dan menyisakan rintik-rintik yang sebetulnya lebih menyebalkan, sekitar pukul 18.30 WIB saya bergegas kesana.

Bermodalkan sebuah e-mail yang saya terima dari rekan IHEARTGIGS di Malang sana –katanya mau dikirim ID Card tapi gak jadi- saya kemudian menarik pelatuk gas motor menuju Lapangan Udara yang dijadikan venue digelarnya acara. Jas hujan dan satu teman (cowok) menjadi menu spesial di hari Minggu malam itu, saya pun berharap bisa menemukan kaum hawa yang artsy disana.

Food Tenant di The I Way Festival ©Noviar Rahmat

Food Tenant di The I Way Festival ©Noviar Rahmat

Dua puluh menit berlalu, motor yang saya geber mulai dari daerah Dago akhirnya tiba. Sesampainya di lokasi, saya dibuat takjub dengan konsep yang menarik dari pihak panitia. Venue yang berada di Lanud membuat semua pengunjung bisa mendengar beberapa kali pesawat take off. Menarik sekali, perlu diketahui acara dengan konsep ‘aneh’ seperti ini (memanfaatkan lahan kota yang kurang difungsikan) memang sedang menjadi tren di kalangan pemuda-pemudi Bandung, keren banget sih!

Saya dan ratusan penonton sempat tertahan diluar cukup lama, 60 menit! Katanya saat itu panitia sedang mempersiapkan stage yang sebelumnya dihantam hujan dan badai yang sangat deras. Bosan sih iya, tapi semuanya bisa teralihkan oleh booth komunitas kreatif dan food tenant yang tersedia.

Penampilan Heals di The I Way Festival ©Noviar Rahmat

Penampilan Heals di The I Way Festival ©Noviar Rahmat

Setelah menunggu lama –dan acara sudah molor, saya akhirnya bisa masuk dan langsung disuguhkan alunan shoegaze ala Bedchamber, unit asal Jakarta. Tak lama setelah mereka giliran Heals yang ambil bagian, saya cukup penasaran dengan band ini, selain karena karya-karya mereka yang membuat saya sanggup sejenak mengalihkan perhatian dari musik-musik keras yang saya geluti adalah si pembetot bass, Octavia Lantang. Iya dia, fuckin’ artsy girl, outstanding! Haha. Intinya, mereka sukses membangun suasana yang sedang ngambang waktu itu.

Tak lama kemudian sesuatu yang pada akhirnya membuat semua pengunjung kecewa terjadi. Ya, acara dihentikan. Sebenarnya malam itu masih menyisakan beberapa line up, di antaranya Kelompok Penerbang Rocket, Danilla x Mondo Oscardo dan The Sigit, tapi sayang perijinan yang hanya sampai pukul 22.00 WIB mengharuskan panitia untuk menghentikan acara.

Menurut kabar yang saya terima, hal tersebut dikarenakan molornya rundown akibat hujan deras. Itu menyebabkan alat-alat sound di atas panggung membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa kembali kering. Sontak pengunjung yang tentu sudah membeli tiket menyuarakan kekecewaan mereka, tapi di media sosial.

Melihat kolom komentar dari akun Instagram resmi The I Way, pengunjung menilai pihak panitia telat dalam memberikan informasi terkait pengisi acara yang batal perform sehingga ketika mereka terlanjur membeli tiket mereka pun belum tahu mengenai pemberhentian acara ini. Sangat disayangkan. Untungnya sudah ada itikad baik dari penyelenggara dengan membuat sebuah press release yang menyatakan permohonan maaf di sejumlah akun media sosial tak lama setelah kejadian.

Acara sebesar ini mestinya diiringi dengan pihak-pihak yang sudah siap akan segala resiko yang terjadi. Ya untungnya para pengunjung bisa tertib dan tak ada yang menunjukkan sikap anarki waktu itu.

Facebook Comments

You May Also Like

Interview

Sekali lagi dunia musik cadas tanah air kedatangan gitaris wanita. Ya, setelah Prisa Rianzi yang sempat membuat kita berdecak kagum dengan permainan gitarnya bersama...

Featured

Festival Metal terbesar se-Asia Tenggara, Helprint 2016, kembali digelar dengan Bandung sebagai tuan rumah. Facebook Comments

Album

IHEARTGIGS – Memahami album baru Asking Alexandria mungkin kurang terasa gregetnya kalau belum mengikuti drama perpecahan duo frontliner band ini, Ben Bruce dan Danny Worsnop. Band...

News

Pada pertengahan tahun 1994, sekelompok anak muda yang menggemari musik keras (metal, hardcore, punk) Facebook Comments

Copyright © 2020 IHEARTGIGS